PadaMu Jua
Tidak!
Engkau tak boleh kalah walau kau telah berdarah-darah.
Engkau tak boleh kalah walau kau telah terlalu lelah.
Tidak!
Kita mesti tetap melangkah walau dalam gelap,walau gamang mengguncang jiwa…
Meski terjatuh, Ia yang membuat kita bangkit kembali. Walau terluka, biarlah Ia yang menyembuhkannya.
Ini adalah jalan Cahaya.
Jangan menyerah di hadapan gelita.
Wahai kasihku…
telah kau dengarkah jeritan hatiku?!
Karena hidayah adalah petunjuk, sudah pasti ada cahaya di sana.
Cahaya itu itu menerangi. Sedikit demi sedikit mengikis segenap kegelapan yang bersemayam. Lalu menggantinya dengan pancaran gilang gemilang. Dan itulah jenak-jenak dimana manusia menyadari akan sebuah harga.
Hidayah itu lebih berharga dari kekayaan karena ia tidak membawa kita kemana-mana kecuali pada ketenangan jiwa. Ia adalah jalan menuju Rabb Semesta Raya. Ia adalah hamparan rahmat karunia.
Ruh dan raga yang dicahayai hidayah tidak lagi menjadi milik pribadi muslim, tetapi ia telah menjadi milik tangan-tangan kebajikan. Ruh dan raga itu adalah pedang yang meluluhlantakan kemungkaran; menjadi benih-benih yang menumbuhkan kebaikan, dan menjadi kendaraan menuju suatu harapan: keridhaan Alloh Azza wa Jalla.
Harapan luhur ini membuahkan keikhlasan. Keikhlasan menjaga diri mereka dari ketergelinciran.
Tubuh mereka di sini. Tetapi mereka sepenuhnya telah menjadi milik Negeri Akhirat. Mereka menyerahkan dirinya untuk ditebus dengan sesuatu yang paling mahal: keridhaan Alloh.
Itulah yang menumbuhkan kehendak untuk meraih kehidupan yang terhormat di Negeri Abadi. Kehendak itu laksana sumber mata air yang mengalirkan semua kualitas yang dibutuhkan manusia. Integritas, kejujuran, kedermawanan, keberanian… kualitas-kualitas itu selalu mengalir dan mengalir selama kehendak itu menggurat teguh dalam jiwamu.
Engkau harus jeli membedakannya !
Dalam perjalanan keberagamaan, engkau akan menemukan keteduhan yang belum pernah kau rasakan, engkau akan berjumpa dengan kedamaian yang teramat teguh dalam hatimu, engkau juga dapat merasakan ketenangan yang tak mungkin dirasakan kecuali oleh jiwa-jiwa yang berserah diri pada-Nya.
Tetapi di sinilah kejelian itu kita butuhkan sahabatku. Karena di sinilah jebakannya.
Banyak orang yang akhirnya mundur ke belakang padahal sebelumnya ia selalu berdekat-dekatan dengan Tuhannya. Bahkan beberapa tidak lagi merasakan keteduhan meskipun mereka melakukan kewajiban agama.
Maka engkau harus jeli menempatkan dirimu. Tuhanmu tidak memerintahkanmu mencari ketenangan dalam dzikirmu, tetapi Ia memerintahkanmu untuk mengingat-Nya. Ketenangan itu bukanlah tujuan akan tetapi ia hanya buah dari kebajikan yang engkau lakukan.
Hidupmu bukanlah untuk mencari-cari kebahagiaan sebab semakin ia dicari semakin jauh dirimu daripadanya; tidakkah engkau merasa, perlahan-lahan dirimu menjadi budak dari rasa bahagia itu?
Islam telah membebaskan dirimu dari segala bentuk perbudakan.
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Alloh semata.”
Keteduhan dan ketenangan adalah karunia-Nya yang Ia berikan ketika engkau berada dalam kebajikan, tetapi jangan pernah merubahnya menjadi tujuan. Keteduhan dan ketenangan adalah buah dan bunga-bunga yang bertebaran di sepanjang perjalanan menuju Rabb Maha Agung. Mereka akan selalu menemanimu selama engkau tetap berjalan menuju Alloh Yang Mahabelas Kasih.
Welcome to Blog.com.
This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging!