PadaMu Jua
Terkadang, ketika seorang lelaki tidak sanggup menghadapi badai kehidupan, yang dapat dilakukannya hanyalah pulang ke pangkuan kelembutan wanita.
Mungkin tak semuanya, tetapi beginilah aku suamimu.
Aku menemukan kekuatan di balik kelembutan.
Aku juga menemukan hati yang tabah pada dirimu.
Dirimu bagai tanggul yang dengannya mengalirlah sungai, seperti angin yang dengannya berlayar bahtera-bahtera, seperti tiang yang kepadanya camar istirah.
Engkaulah sesungguhnya yang paling dekat dengan ketabahan.
Engkau yang dapat menahan sakitnya melahirkan, susahnya bangun demi mendengar tangisan buah hati . . . apakah itu yang mewariskan keteguhan ke lubuk hati seorang wanita? yang membuatmu lebih tabah dari seorang lelaki, lebih santun dalam kemarahan, lebih damai meski dipukul badai gelombang . . .
Rasanya aku ingat kalimat ini,
“Di balik lelaki agung terdapat wanita agung.”
Hanya saja diri ini seringkali terlupa kebajikan yang kau ulurkan.
Engkau tidak hanya menguraikan mimpi-mimpi masa depan kita,
tetapi mengajari kami untuk berani merebut mimpi.
Tak cukup rasanya seluruh curahan cintaku ‘tuk membalas kebaikan-kebaikanmu.
Aku baru tersadar bahwa demikian banyak kesalahan karena keangkuhanku.
Setulus hati ini kuucapkan terimakasih; terimakasih untuk kebaikan yang mungkin tak terlihat, untuk semua pengorbanan yang tak terindahkan, untuk setiap cinta yang belum terbalaskan.
Terimakasih untuk kesediaanmu menemaniku melewati masa-masa sulit ini.
Tahukah engkau,
Dalam kegembiraan senyummu menyempurnakan.
Dalam penderitaan senyummu menabahkan.
Dalam resah senyummu mendamaikan.
Engkaulah puisi yang nyata di hadapanku, bergerimis di belantara kebahagiaanku,
dan kusandingkan di permadani rindu.
Leave a Reply