PadaMu Jua
Adalah karunia Rabb yang menurunkan Al Qur an sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus; mencahayai perjalanan para mukminin. Dengan karunia Tuhan, mereka yang hidup di zaman Rasulallah mendapat gelar Generasi Terbaik. Dan sesungguhnya mereka benar-benar taburan bintang yang menghiasi langit kehidupan. Mereka telah memperlihatkan, maka kita melihat; tentang kebenaran Al Qur an yang dengannya Nabi diutus untuk menyampaikannya kepada umat manusia, yang dengannya sekelompok manusia mengukir kegemilangannya di pelataran sejarah.
Sungguh, Al Qur an selalu menyingkapkan kebenaran yang dikandungnya. Maka dimanakah hati akan menyimpan keraguan atasnya? Mereka – kaum yang tak mengerti – memang tiada henti menjauhkan Al Qur an dari kehidupan kita. Dan mereka menginginkan kehancuran karenanya. Itulah misi mereka yang mereka katakan dengan mulut-mulut mereka sendiri.
Tetapi, kelak mereka akan kecewa dan terpukul ke belakang. Dengan wajah sedih dan muram. Sungguh mereka telah menaburkan kecongkakan dan kerusakan. Berdiri sombong di atas sains dan ilmu pengetahuan. Yang dengannya dapat menghancurkan jantung kehidupan pribadi Muslim. Lalu, mereka saling berbangga atasnya. Maka merekapun menepuk dada dan menyangka bahwa kemenangan sudah di pelupuk mata. Berjalanlah mereka ke ujung-ujung Negeri. Membawa kecongkakan tak terkira. Serta menaburkan kebodohan pada umat manusia. Mereka tertawa gembira karena pada jantung-jantung Muslim tak berdetak kekuatan yang pernah mengalahkan mereka.
Apakah mereka menyangka bahwa kerja mereka telah selesai? Ataukah tujuan mereka telah tecapai? Ataukah waktu ada pada genggaman mereka sehingga mereka memastikan bahwa mereka berada di atas kemenangan? Maka biarkan mereka tertawa sejenak. Lalu mata mereka akan terbelalak. Karena cahaya datang dari belakang dan hadapan mereka. Menyingkap kelemahan dan juga kelicikan.
Inilah hari, dimana ilmu yang mereka banggakan menghantarkan orang-orang yang bijaksana di antara mereka memasuki Rumah Islam. Menguatkan iman mereka yang telah beriman sebelumnya. Pada hari ini, ilmu pengetahuan akan menjadi sesuatu yang menggentarkan dan melemahkan setiap hati musuh Islam. Yang demikian terjadi karena ilmu membentangkan kebenaran ayat-ayat Al Qur an.
Siapakah yang menerangkan bahwa langit terus menerus mengembang? Atau siapakah yang menerangkan bahwa ada dua lautan yang saling bertemu, namun ada pemisah di antaranya? Siapakah yang menerangkan bahwa setiap sesuatu diciptakan berpasang-pasangan? Matahari sebagai pelita dan bulan benda yang bercahaya? Gunung sebagai pasak dan langit sebagai atap yang melindungi? Apakah seorang Arab yang bernama Muhammad yang hidup berabad-abad yang lalu di Gurun dan Padang Pasir telah mengetahui teknologi di abad ini?
“Alif Lam Miim. Kitab (Al Qur an) ini tidak ada keraguan padanya: petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”
Allah telah memperlihatkan kebenaran Al Qur an di setiap ufuk. Kebenaran itu tidak dapat disangkal tidak dapat disembunyikan. Lalu, setelah Kebenaran itu terungkap jelas, masihkah ada jalan lain untuk kita tempuh? Hendak kemanakah kita!?
Keimanan kepada Alloh telah membebaskan mereka dari segala bentuk ketergantungan; memisahkan mereka dari apa yang disebut manusia sebagai ketakutan; menghidupkan pelita yang selalu memancarkan tenaga jiwa, bahkan dalam sunyi yang paling senyap sekalipun.
Keimanan pada Hari Akhir membawa mereka pada bahtera amal; membawa mereka pada keberhasilan melewati aroma duniawi yang begitu kerdil dan kecil, tetapi terlihat megah dan mewah di mata para pemujanya. Di sini, mereka akhirnya hanya menyemaikan kebaikan-kebaikan amal, melahirkan karya-karya, dan bekerja membangun sebuah kehidupan: kehidupan terhormat di Negeri Akhirat.
Tetapi dunia ini memiliki satu penghuni lain: kematian.
Dialah yang membuat rentang waktu dunia ini menjadi pendek bagi kehidupan individu. Dia pulalah yang merenggut segala nafas kehidupan. Jauhnya tak dapat diukur, sebagaimana dekatnya yang hanya beberapa inchi saja.
Maka, kematian selalu mengintai karena ia bersembunyi di balik tabir misteri. Maka, setiap jiwa harus berlari menggapai mahkota paling cemerlang karena kematian siap menghadang.
Akan tetapi, kematian laksana lubuk yang senantiasa mendidih; mendidihkan jiwa. Dari jiwa yang tak henti mendidih ini, meletuplah rangkaian demi rangkaian karya dan amal pribadi muslim. Rangkaian amal itu memenuhi seluruh sendi, sudut, dan seluruh penjuru ufuk dari rentang waktu yang kita sebut umur. Amal-amal itu lahir susul menyusul di sempitnya detik-detik waktu karena ia selalu diburu sang maut.
Tak ada waktu yang tak tersemaikan oleh taburan amal. Tak ada tenaga yang tak hanyut pada sungai kebajikan. Oleh karenanya, hanya dengan keterhormatanlah pribadi muslim menjalani kehidupan ini. Karena ia menyadari, kehidupan ini hanya sekali.
Tetapi, ada yang lebih penting di sini: mati itu hanya sekali! Hanya sekali. Masuk ke gerbangnya tak mungkin kembali. Sedang di sana, ada sebuah kehidupan lagi yang sedang menanti.
Keimanan yang haq melahirkan totalitas dalam ber-Islam. Totalitas menggerakkan jiwa dan raga dalam gelora perjuangan. Gelora yang tak pernah mati. Gelora yang menghidupkan vitalitas daya juang. Maka, generasi Muslim itu adalah puisi terindah dalam sejarah. Yang tak mungkin bersanding dengan mitos-mitos yang dibuat manusia. Karena generasi itu benar-benar hidup dan menjalani hari-hari mereka sebagai manusia sesungguhnya.
Baris kata tak dapat menemukan jalannya untuk mengungkapkan betapa agung akhlak mereka, sebagaimana imajinasi tak dapat menjangkau sebuah gambaran tentang generasi yang hidup di zaman penuh kedamaian dan kemakmuran itu.
Keagungan dan kejayaan mereka adalah taburan mutiara zaman. Yang ditebus dengan kebesaran jiwa dan ketabahan hati. Dengan derai air mata dan kucuran keringat. Dengan perjuangan dan keistiqomahan. Berderap selamanya di jalan panjang. Jalan yang mendaki lagi sukar. Jalan dengan cita rasa perjuangan.
Mengapa daya juang itu tidak pernah pupus? Meski dihantam seribu godaan. Apakah mereka teramat kuat memikul beban yang sangat berat? Atau mungkin ada hal lain yang mereka miliki.
Sungguh, ada sesuatu yang bekerja jauh dari lubuk jiwa mereka. Ketawakalan kepada Allah. Ketawakalan melenyapkan kekhawatiran-kekhawatiran akan kegagalan. Ketawakalan menghilangkan ketakutan-ketakutan yang mencemaskan. Karena, hasil dari kerja-kerja mereka tidak ditentukan oleh mereka sendiri. Tetapi, hasil ditentukan oleh Allah Yang memiliki Kebijaksanaan dan Pengetahuan.
Inilah kehebatan generasi terbaik itu. Dari luar, kerja-kerja mereka bergerak dengan vitalitas yang tak pernah padam. Dari dalam, ketawakalan kepada Allah menyuplai energi kepada jiwa dan mengosongkan jiwa dari segala beban. Ini memang nampak berlawanan. Kerja keras dan ketawakalan. Namun, pada hakekatnya, ia seperti udara dingin dan panas yang dapat membentuk kekuatan dahsyat bila bertemu. Membadai di hamparan langit biru.
Inilah salah satu kehebatan manusia muslim. Selalu ada dua sisi yang berbeda tetapi menyatu dalam diri mereka. Seperti kerja keras dan tawakal, keberanian dan ketawadhuan, kelemahlembutan dan ketegasan. Semua sikap, suasana kejiwaan, dan karakter muslim menyerap seluruh energi; kemudian meledakkannya menjadi karya sebagai perwujudan penghambaanNya kepada Sang Maha Kuasa.
Dunia dan segala yang menghiasi di dalamnya adalah sebuah ujian. Sebagaimana bentuk ujian yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari, tentu ujian itu berlangsung hanya sesaat meskipun ketika menjalaninya terasa lama. Namun, waktu yang sesaat ini menentukan hari-hari berikutnya yang kita sebut masa depan.
Dunia, sebagai tempat ujian, tentunya hanya memberikan waktu terbatas kepada manusia yang menghuni di dalamnya. Dan demikianlah karakter ujian. Apapun yang pernah dialami di sini, baik atau buruk, segalanya akan berakhir. Kematian adalah batasnya. Itu pasti.
Untuk mengingatkan bahwa dunia adalah ujian, kehidupan dunia dipenuhi dengan cita rasa perjuangan. Cita rasa yang tak terpisahkan dari hari-hari yang berlalu di sini. Perjuangan adalah kehidupan, dan kehidupan adalah perjuangan. Siapapun yang mengikuti naluri ini dia akan memimpin dirinya menuju keberhasilan karena naluri ini memang diciptakan untuk kehidupan dunia ini.
Berbahagialah mereka yang membuat naluri ini bekerja tanpa ujung dalam kehidupan ini. Karena selama naluri ini bekerja, kehidupan menemukan gairahnya. Naluri ini hanya akan bekerja dalam jiwa mereka yang memiliki impian dan tujuan yang harus mereka raih. Sepanjang jalan dalam meraih impian dan mencapai tujuan tentu banyak halang rintangan. Tetapi inilah yang membangkitkan kekuatan naluri perjuangan. Ini bukan penghancur. Bukan pula benteng yang memisahkan manusia dari impiannya. Setiap halangan dan rintangan adalah percikan yang menyulut gairah perjuangan; membuka katup-katup kekuatan jiwa yang masih terpendam.
Selamanya, naluri perjuangan hanya mencapai kesempurnaannya manakala ia benar-benar dihidupkan dari awal kehidupan hingga batas akhir nafas, yakni kematian. Dengan kata lain, ia harus memenuhi rentang usia mukmin.
Naluri Perjuangan pernah hidup dalam masa keemasannya ketika generasi Muslim hidup berdampingan dengan Al Qur an dan Sunnah, dipenuhi cahaya keimanan. Sepenuhnya, generasi ini hidup damai dalam keisalaman. Islam mengarahkan tujuan hidup mereka pada satu tujuan yang menembus ruang waktu dunia.
Oleh karenanya, langkah mereka tidak pernah berhenti, sebab tujuan itu tidak berada di dunia ini. Naluri perjuanganpun tidak pernah surut sebab Nabi mereka pernah bersabda bahwa seorang muslim baru beristirahat ketika kakinya menapaki lantai surga. Inilah sejarah yang melegenda itu. Setiap Naluri Perjuangan yang masuk ke dalam kehidupan Islam, ia berkobar selalu. Bergelora. Berdenyut dan bertenaga. Dan Islam mempertajam naluri itu.
Ketajamannya tidak pudar ditelan waktu. Naluri berjuang seorang generasi muslim selalu terasah. Karena mereka paham bahwa mereka hidup dalam kancah peperangan antara al haq dengan al batil; peperangan yang dimulai dari Ayahanda dan Ibunda mereka melawan Iblis dan para serdadunya.
Hawa peperangan ini membuat naluri perjuangan senantiasa terjaga dan waspada. Membentengi pemiliknya dari kelengahan. Kemudian menjelma menjadi karakter yang siap menaburkan bibit-bibit kemenangan. Karakter ini tidak pernah lenyap atau hilang karena selama hayat masih dikandung badan, ia berada dalam kancah pertarungan abadi. Dan selamanya naluri itu dibutuhkan di sana.
Ketika manusia hidup berdampingan dengan kebodohan; ketika kebaikan tak mempunyai tempat dalam dunia yang dipenuhi kebohongan; ketika akhlak terperosok jauh ke dalam lumpur kehinaan; ketika satu kaum menindas kaum lainnya; ketika kekuasaan mengangkat sebagian manusia dan memberikan kesengsaraan pada sebagian yang lain…
Maka ia berdiri memenuhi perintah Rabb-nya. Di tengah gelap malam Kota Mekah. Kala seluruh manusia terlelap dalam mimpinya. Ia berdiri mengingat Tuhannya. Beribada sepenuh hatinya. Mengisi persada jiwanya dengan kekuatan sebelum turun kepadanya perkataan yang berat.
Bangunlah ia di setiap malam. Menanggalkan selimut yang hangat. Karena hari-hari sedang menanti dirinya untuk berdiri. Berdiri dan memberi peringatan. Maka ia mengagungkan Rabb-nya. Sebab, di sanalah jiwa itu akan mudah dibersihkan dari kotoran. Sebab, di sanalah jiwa menumbuhkan vitalitas yang menyala-nyala. Jiwa bercahaya mengusir kegelapan. Di sana, jiwa menjadi kaya. Tak ada lagi keinginan untuk meminta karena jiwa yang kaya hanya memberi.
Jiwa yang kaya adalah jiwa yang cukup dengan kehidupan ini. Maka ia tak akan terganggu oleh perkataan orang-orang bodoh, karena kekayaan jiwa berisi kesabaran. Tak ada ancaman yang menakutkan karena kekayaan jiwa memiliki benteng bernama keberanian.
Tak ada godaan yang dapat menjerumuskan karena kekayaan jiwa mengalirkan sungai kemuliaan. Harta benda tak sanggup membawa kesombongan karena ia harus tunduk pada ke-tawadhuan¬-an. Tabiat keras serta kasar luluh jua karena di sana tumbuh kelemahlembutan. Dendam lenyap karena kasih sayang luas membentang.
Di sana, di dalam jiwa yang kaya itu… Tak ada kecemasan yang dapat mengganggu karena kedamaian bersemayam dalam kekokohan.
Demikianlah cerita tentang orang-orang yang memperoleh Kemenangan itu. Segalanya bermula dari dalam jiwa. Jiwa yang disentuh oleh kekuatan ruhiyah, ditempa dalam tarbiyah panjang, untuk selanjutnya mendapatkan jati diri sebagai manusia berpredikat Muslim. Maka saksikanlah, sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim. Mereka telah menunjukkannya dan dunia menyaksikan kehebatan yang tersejarahkan. Di Timur dan Barat. Di segala penjuru dunia.
Hari ini, malam tetap merayap setelah sang matahari pergi ke ufuk Barat. Dan kegelapan itu seolah berkata kepada mereka yang terjaga untuk menyembah Rabb-nya, bahwa di sini tidak ada mata yang dapat melihatmu. Itulah sebabnya jiwamu terisi oleh kekuatan dari Dia Dzat Yang Maha Esa. Sebab inilah waktu dimana tak mata yang melihatmu. Tak ada telinga yang mendengar. Dan tak ada mulut yang berkata dengan nada memuji. Hanya ada Illah di hadapanmu.
Manakala pagi pecah, ruh diliputi cahaya.
Ruh-ruh itu adalah ruh-ruh yang merasakan kesejukan setelah “berjumpa” dengan Rabb mereka. Pada kesejukan terdapat kekuatan. Karena ruh-ruh yang tersirami kesejukan itu kemudian menjadi mata air yang tak henti mengalirkan ketenangan, harapan, rasa antusias, keyakinan.
Setiap peperangan yang dimenangkan oleh para sahabat selalu diiringi ketenangan. Dan ketenangan merupakan karunia yang diturunkan oleh Allah ke dada-dada Kaum Beriman. Ketenangan membuat tenaga berlipat ganda; membuat setiap langkah tepat menuju sasaran.
Terkadang, dalam menghadapi masalah bukan kepintaran yang diperlukan – tetapi ketenangan yang cukup. Ketenangan akhirnya bergabung dengan harapan, keyakinan, antusiasme bersama junudan lam tarouha membentengi tiga ratus manusia beriman dalam perang Badar.
Di puncak kekuatan ruhiyah, tiga ratus manusia mengalahkan seribu manusia lainnya. Dan ini bukanlah dongeng, legenda, atau mitos kosong. Tetapi ini adalah catatan sejarah yang menembus jiwa mereka yang berjalan di jalan keimanan; melecut jiwa dengan gelora tak terpatahkan, meski langit kehidupan menurunkan seribu badai. Sebab setiap badai adalah cara Tuhan menurunkan karuniaNya untuk diturunkan kepada mereka yang mencintai kebaikan.
Di penghujung relung jiwa, kita menemukan fitrah untuk beriman kepada Tuhan. Dengan begitu, inti dari semua peradaban yang pernah hidup di lembaran zaman adalah Tuhan. Simak sekali lagi tentang ateisme. Atau agnostisisme. Atau kapitalis materialis. Semuanya menegasikan bahwa Tuhan adalah cara kita untuk mengukur suatu kebenaran.
Kekeringan ruhiyah dalam masyarakat, baik di Timur maupun di Barat, membuat mereka kembali pada spiritualitas: mencoba menemukan keimanan yang hilang.
Pada mulanya mereka mendapatkan ketenangan. Mereka menemukan kegembiraan dalam jiwa mereka melalui perjalanan yang mereka sebut pencerahan, melalui laku meditatif yang mereka kerjakan. Tetapi kita melihat keimanan mereka tidak bertahan lama.
Sebab keimanan yang senantiasa tumbuh dari dalam itu tidak mendapatkan dukungan dari akal. Maka, meskipun hati percaya tetapi kebingungan tumbuh di antara pohon-pohon keimanan.
Maka keimanan dalam Islam adalah keimanan fitrah yang bertemu dengan rasionalitas akal. Keimanan yang memuaskan dahaga perasaan dan jiwa, keimanan yang memberikan jawaban di pelataran akal dengan rasionalitas yang dipenuhi kemukjizatan.
Bergemalah jua akhirnya Islam ke pelosok negeri hingga ke telaga perenungannya. Dibawa dalam tradisi keilmuan. Berdebur di pantai akal dan pikiran. Indahnya terukir di istana sejarah.
. . . Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Mujadilah: 11]
Dunia mengenal Muhammad bin Musa al-Khawarizmi: ahli di bidang algoritma, matematika, geografi, aljabar. Muhammad ibn Zakariyya al-Rhazi di bidang kedokteran, kimia, dan astronomi. Ibnu Kholdun di bidang sosiologi, sejarah, dan politik.
Mari kita buka kembali Shahih Imam Bukhari. Bukankah hadits itu sendiri adalah hujjah tak terbantahkan tentang keilmiahan Islam. Mari kita baca Jeffrey Lang, seorang ateis yang kembali ke pangkuan fitrah, Maurice Bucaille yang menyatakan keilmiahan Al Qur an di hadapan ilmu pengetahuan, atau Keith Moore yang mendapat hidayah setelah pengetahuannya tentang embriologi ia temukan dalam kitab suci dan hadits, atau Roger Geraudy dimana filsafatnya bertekuk dalam kebenaran Islam.
KeIslaman senantiasa bertumpu pada landasan ilmu pengetahuan. Maka tradisi keilmuan merupakan nafas dari keimanan. Tradisi keilmuan merupakan warna yang tak hilang dari lukisan peradaban Islam.
Maka terketuklah hati kita ketika Imam Syafe’i mengatakan bahwa setengah ilmu kita telah disia-siakan. Setengah ilmu kita telah diambil manusia lain. Itulah kesedihannya manakala melihat ilmu kedokteran mulai dilalaikan oleh kita ummat Islam.
Pernakah Anda bertemu dengan seseorang yang mungkin membuat Anda kagum atas militansinya dalam menyebarkan nilai-nilai Islam? Mungkin juga ia adalah seseorang yang telah menghantarkan Anda menuju pintu hidayah, atau setidaknya memberi inspirasi kepada Anda. Akan tetapi, di kemudian hari, ketika Anda bertemu kembali dengannya, betapa terkejutnya Anda karena ia jauh dari bayangan Anda sebelumnya. Ia mungkin telah bergabung dengan rombongan “yang berjatuhan di jalan da’wah.”
Jalan da’wah: jalan panjang menerapkan nilai-nilai Islam. Rintangan pasti ada. Tekanan selalu menghimpit, meredupkan bara gelora jiwa, melemahkan semangat dan tak sedikit yang terperangkap dalam kubangan: futur.
Oleh karenanya, jangan terpesona oleh sorak sorai yang gegap gempita itu sebab boleh jadi mereka adalah buih di tepi pantai Kebangkitan walau mereka diliputi semangat. Berkobar. Menggelegak. Tapi sayang, itu hanya sesaat. Sesaat!
Maka, jumlah mereka yang tak sedikit, yang memperjuangkan cita-cita, terputus di tengah jalan sebelum mereka bertemu dengan Hari Kemenangan. Bahkan seolah mereka tidak pernah mendengar Islam dalam hidupnya. Mereka seakan tak pernah memiliki cita-cita itu.
Betapa banyaknya yang terjun ke Dunia Kebangkitan dengan gelora menggebu-gebu, namun hanya beberapa waktu kemudian, gelora itu redup dan mati.
Mereka terperosok dalam lumpur kekalahan jiwa. Tenggelam di sana. Semangat itu tak pernah, atau jarang bertemu dengan ilmu, maka semangat yang tinggi itu runtuh, karena semangatnya bukanlah pohon yang akar-akarnya menghujam jauh ke dalam perut bumi, melainkan bagai debu di atas permukaan batu yang licin. Hilang diterpa angin lalu.
Maka setiap pribadi harus mencurigai semangat yang bersemayam dalam dirinya. Apakah ia ada di sana karena kepahaman, ataukah hanya karena mengikuti arah angin yang tak menentu? Bila lahir dari kepahaman, berarti ia lahir dari rahim ilmu. Sedang ilmu lebih banyak muncul dari taburan pikiran-pikiran jernih dan renungan-renungan mendalam.
Menyemai pikiran dan perenungan akan melahirkan tindakan. Tindakan akan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan memunculkan karakter. Dan adalah hak bagi karakter untuk menjemput Takdir Kemenangan, sebagaimana karakter Islam yang melekat di sanubari Generasi Sahabat. Mewarnai kehidupan. Dan kehidupan dengan senang hati memberikan catatan sejarah yang gemilang beratus tahun lamanya bagi mereka.
Tetapi, bila semangat itu hanyalah debu-debu yang melekat sesaat, ia pasti terbang dan menghilang. Dan tidaklah memberikan apa-apa kecuali kehinaan yang meliputi diri.
Adalah hak manusia Muslim untuk memilih satu dari dua pilihan ini. Berislam dengan Ilmu atau dengan adat kebiasaan. Bila memilih yang pertama maka akan menjadi mutiara. Walau berjumlah sedikit tetapi mahal. Jika memilih pilihan kedua, relakan diri kita dicampakkan di tempat sampah sejarah dengan keadaan hina dina.
Ruang dan waktu kehidupan senantiasa menyaring peristiwa. Juga menyaring jiwa-jiwa manusia. Yang tak berguna tentunya terbuang. Sedang jumlah sari pati yang berguna dari penyaringan selalu saja sedikit. Tetapi itulah intinya.
Kenanglah kembali kisah para pemuka Bani Israil yang meminta diangkatnya seorang raja di antara mereka. …“Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Alloh.” Nabi mereka menjawab,”Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?.” Mereka menjawab,” Mengapa kami tidak berperang di jalan Alloh, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahu orang-orang yang zalim.
Perhatikanlah sifat mereka di ayat-ayat berikutnya. Sifat suka membantah, sombong, tidak sabar, tamak, adalah sifat yang melekat di sebagian besar mereka.
Sedangkan sifat berani, patuh, rendah hati, dan tidak berlebih-lebihan adalah sifat yang hanya dimiliki oleh sebagian kecil pengikut Talut. Dan benarlah kekhawatiran Nabi mereka, akhirnya, ketika melawati sebuah sungai, hanya sedikit yang patuh kepada Talut: meneruskan perjalanan dengan keberanian dan kesabaran.
Sungai itu adalah batu ujiannya. Batu ujian berperan untuk memisahkan antara yang istiqomah dan yang lemah. Batu ujian berperan agar tak tercampur antara yang haq dan batil. Karena, kemenangan hanya diperuntukkan bagi mereka yang benar keimanannya. Agar kemenangan itu merupakan kemenangan al haq atas al batil.
Lalu, yang menjadi pertanyaannya adalah, dimanakah posisi kita setelah kita menemui batu ujian? Batu ujian apakah yang kira-kira menghentikan langkahmu sebagai anggota kafilah da’wah yang sedang menyusuri jalan menuju Kejayaan ini? Siapkah untuk menghancurkan kerasnya batu itu…?
Kita terkadang menemukan situasi sulit seperti ini: keimanan kita yang masih rapuh harus berhadapan dengan godaan dan bujuk rayuan. Dan kita tahu bahwa itu sangatlah rawan. Keinginan kita menapaki jalan keimanan belum bertemu dengan kehendak yang kuat, lalu , karenanya keistiqomahan kita dalam berkarya mengendur. Hal semacam ini terjadi dalam diri kita berulang kali.
Tetapi jika menengok ke belakang, kita menemukan betapa para sahabat memiliki kekuatan dalam berkarya sebagai wujud pengabdiannya kepada Rabb semesta. Seperti Umar yang sibuk di siang hari mengurusi rakyatnya, dan khusu’ di malam hari bermunajat kepada Rabbnya. Rahib di malam hari, penunggang kuda di siang hari.
Kita terlalu bangga dengan amal kita yang sedikit, tetapi mereka masih mencemaskan diri mereka walau amalnya mengalir tiada henti. Bagi mereka, setiap amal adalah karunia dariNya. Semua kebaikan yang datang padanya merupakan kasih dan rahmat dari Sang Maha Kuasa. Agaknya inilah yang menjelaskan mengapa mereka mendapatkan tenaga yang tiada pernah habis dalam berkarya.
Setiap amal itu dihubungkan pada taburan rahmat dariNya. Diri mereka hanyalah penyampai, wasilah dari kerja-kerja rahmat itu sendiri. Jadi yang bekerja dibalik setiap amal mereka adalah rahmat Alloh. Itulah yang membuat diri mereka merasa ringan. Sebab karya dan amal itu tidak bersumber dari tenaga mereka. Tetapi dari kuasaNya.
Kepahaman bahwa setiap kebaikan merupakan rahmat dariNya membantu mereka untuk tetap rendah hati setelah melahirkan karya-karya besar. Menjaga mereka tetap ikhlas di tengah tebaran amal kebaikan yang telah mereka kerjakan.
Maka terharulah kita mendengar doanya setelah berhasil membebaskan Afrika.
“Ya Alloh, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Demikianlah kita menemukan rasa rendah hati seorang hamba yang bernama Uqbah bin Nafi’.
Atau doa kaum beriman dalam Al Qur an.
Tidak ada do’a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
Serat-serat keimanan adalah jiwa mereka itu sendiri.
Penghambaan diri kepada Alloh merupakan intinya. Kebaikan adalah penandanya. Kecintaan pada Alloh adalah sumbernya. Semaian cinta pada alam semesta adalah cara menguraikannya.
Maka di sini kita mulai belajar untuk mencintaiNya di atas cinta lain. Karena sesungguhnya hanya ketika cinta kita diperuntukkan kepadaNya maka kita lebih tahan untuk menyemaikan cinta kepada setiap makhlukNya.
Cinta kita kepadaNya membuat kita mampu untuk terus mengasihi keluarga; mengasihi sahabat-sahabat, mencintai pohon-pohon hijau, mencintai kebajikan, mencintai ilmu pengetahuan . . .
Gelora cinta padaNya tidak sekedar bersemayam dalam hati dan jiwa, lalu diam di sana. Tidak! Gelora cinta itu mengalir. Bahkan derasnya menggelombang. Melimpahi alam semesta dengan kebajikan-kebajikan. Karenanyalah, kita dapat melihat sejarah terukir oleh jiwa-jiwa beriman; membentuk dalam bangunan peradaban. Membentang dari Semenanjung Arab, Benua Afrika, bahkan hingga menjelajah Eropa.
Keimananlah yang bekerja di balik setiap raga. Gelora cintalah yang akhirnya membuat mereka menguasai setiap hati manusia di pelataran zaman.
Bila akhirnya kekhalifahan itu runtuh, maka itu adalah keniscayaan. Itu adalah suatu kebaikan sejarah. Sebab manusia dapat berkata, “Lihatlah! peradaban itu tetap ada meski ruh Islam telah hilang dari orang-orang Muslim. Bukan karena agama mereka mengukir kegemilangan ini.”
Tetapi sejarah hendak berkata lain. Bahwa kegemilangan, zaman keemasan, dan kemakmuran dalam peradaban itu bukanlah hasil karya manusianya, tetapi karena sesuatu yang menggelorai jauh di lubuk jiwanya. Itulah gelora Iman.
Maka begitulah!
Jiwa kadang tak mengerti darimana tenaga itu menyuplai relung-relung terdalam; tak memahami darimana ketentraman itu begitu mendamaikan. Itulah sentuhan iman. Meskipun kita terdiam, ia yang mengaliri kaum beriman dengan vitalitas kehidupan.
Keimanan itulah yang menghidupkan. Setiap sentuhannya membawa pada sebuah kehidupan: yang berdetak, berdenyut, bergelora di pantai kemanusiaan.
Kita tidak sanggup mematahkan gelombangnya, sebab mata airnya keluar dari fitrah yang tertanam dalam. Kita tak dapat menghentikannya, sebab gelombangnya tinggi dan menghantam di pelataran akal.
“Tak akan gersang telaga damai di jiwamu meski musim telah kemarau. Tak akan layu bunga bersemi di hatimu meski langit membadai. Karena keimanan adalah mutiara yang tak pernah akan kau lihat bentuknya. Engkau hanya merasakan indahnya, kilau cahayanya, dan kokoh ketentramannya.
“Keimanan adalah telagamu yang tak kau ketahui tepiannya. Engkau hanya merasakan luasnya, menerima ketenangan darinya, dan kebeningannya yang tak terusik. Maka biarkan jiwamu istirah di sini. Mereguk kesegarannya. Bawalah amarah dan penat karena di sini akan terurai dan menghilang.
“Keimanan adalah bunga yang tak dapat kau sentuh raganya. Biarkan saja ia menebarkan sejuta keharumannya. Biarkan engkau menikmati suasana musim berseminya.” [Kumpulan: Surat untuk adikku].
Terbacalah apa yang terjadi pada mereka dalam sebuah analisa George F Kneller.
“Bala tentara Islam…tidak berbekalkan apa-apa secara kultural selain dari Kitab Suci dan Sunnah Nabi. Tapi karena inner-dynamic-nya, maka ajaran Islam itu telah menjadi landasan pandangan hidup yang dinamis yang kelak…memberi manfaat untuk seluruh umat manusia.”